20 September 2007

se7enth an sk8th day of ramadhan

hari ke tujuh dan lapan bulan puasa:

1. pulang kantor
pikiran masih kacau euy, inget kejadian tadi siang. bego juga sih ngapaian juga bud baed nya muncul maning...tapi ya sudahlah...emang semuanya salah gue sih

2.buka
agak2 males, nyampe rumah langsung pules tiduran di kamar. mikir buat maen ps pun ngga tapi ya itu kok bangunnya pas banget sama magrib. bukanya sekrang lumayan pengkatan, emping + sayur sop, meskipun gue masih nhgeliat sisa rendang masih mengincar gue.

3. Taraweh
adoooh...bener2 ngga konsen, masih merasa bersalah sama yang tadi...cuma mo gimana lagi...badan yang biasanya cape banget buat sholat lumayan berasa seger. mungkin karena sempet tiduran...
abis taraweh...ada telepon...telepon yang menjelaskan semuanya...puiiih lega deh...lumayan lama lah, setelah beberapa kali call drop (maklumlah ESIA). pembicaraan tetep aja lanjut....dari jam 9 sampe 1/2 12 atau malah jam 12....i love keceplosan mu dear....


4. sahur (paginya)
sahur...masih emping sama sayur sop...lumayan nikmat bo. meskipun nyokap gue bukan sulis atau siska...tapi yaaa lumayan bikin kangen sama masakan rumah...

5. di kantor
lumayan...telat...gile mentang2 pulang jem 4, masuknya juga dipajuin jadi jam 1/2 8...tetep aja nyampe kantor telat 20 menit....


*lebaran itu tanggal berapa sih?

19 September 2007

0000-0200

"aku takut"
"takut akan apa?"
"entahlah"
"apa yang kau pikirkan?"
"aku tidak tahu, semenjak semalam hatiku terasa mencekam"
"tenanglah tidurlah jangan takut"
"aku tidak bisa! aku terlalu takut"
"tenanglah, semuanya akan baik2 saja"
"aku terlalu takut, aku takkan bisa"
"kemarilah"
"kau mau apa?"
"tidurlah didekatku"
"tidak perlu, aku hanya mengganggu tidurmu"
"jangan hiraukan, kemarilah didekatku"
"terimakasih"
"sudahlah, tidurlah"
"aku masih takut"
"apa yang membuatu begitu takut?"
"aku tidak tahu...aku tidak tahu"
"tenanglah..aku akan selalu didekatmu"
"peluk aku...aku semakin takut"
"tidurlah, dalam pelukanku, dalam hangatku, dalam nyamanku dan cintaku"
"kau tau apa yang ku takutkan?"
"tidak, boleh aku tahu?"
"aku takut dekapanmu akanku akan melonggar hingga akhirnya melepaskanku"
"aku akan berusaha"
"dekap aku erat-erat, biarkan aku remuk dalam pelukanmu, biarkan aku lemas dalam dekapanmu, biarkan aku mati dalam lindunganmu"
"kenapa berkata seperti itu?"
"karena mati dalam dekapanmu lebih baik dari pada hidup tanpa dekapanmu"
"aku mencintaimu..."
"kau tau yang aku rasa, aku tak perlu bilang...."


malam itu kami berpelukan sepanjang malam...dalam dekapan kasih kami. entah tertidur atau terjaga. hangat, manis dan penuh rasa... semua karena satu kata...yaitu cinta!

07 September 2007

pas 2 hari cuti (5-6)


atas dari kiri ke kanan: steker, ubur2, male toilet logo, truk kontainer
bawah dari kiri ke kanan : setrika, komputer, bunga2, penyu



Pohon apel



kiri ke kanan : orang, rumah pohon


ketauan deh pas gue ikut psikotes dari hari selasa n rabu, kalo ga bakat sama sekali ngagambar

03 September 2007

Nuryamah Kejer, Rambut Sedengkul Dipotong Orang Iseng di Bus (dikutip abis dari detik.com)

Nuryamah Kejer, Rambut Sedengkul Dipotong Orang Iseng di Bus
Nala Edwin - detikcom

Jakarta - Agus Setiawan (27), warga Mampang, Jakarta Selatan, benar-benar kurang kerjaan. Tiada angin tiada hujan, ujuk-ujuk dia memotong rambut Nuryamah (35) di dalam bus P27 jurusan Blok M-Bekasi.

Rambut wanita bertampang manis ini yang panjangnya semula sedengkul kini tinggal sebahu. Nuryamah pun nangis kejer dibuatnya.

Pelaku dan korban kini berada di Reskrimum Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta.

Peristiwa yang tidak akan dilupakan Nuryamah seumur hidupnya itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, Senin (3/9/2007).

Nuryamah bersama ibunya, Emah (52), naik bus P 27 yang menuju Bekasi dari Terminal Blok M. Dia duduk di bangku bagian belakang. Rambutnya yang panjang tergerai diikatnya dengan karet.

Ketika sampai di sekitar putaran Semanggi, Nuryamah yang hendak membetulkan ikatan rambutnya, merasakan rambutnya ditarik-tarik.

Begitu dia meraba mahkotanya, alangkah kagetnya dia mendapati rambutnya tinggal sebahu.

Nuryamah langsung mencari orang iseng yang belakangan diketahui bernamma Agus. Agus sempat turun dari bus dan mencoba kabur. Namun Nuryamah yang tidak rela kehilangan mahkota kesayangannya itu berusaha mengejar Agus.

Agus berhasil diamankan 4 petugas polisi. Dengan tangan yang diikat tali rafia, Agus dan korbannya lalu dibawa ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK). Tas milik Agus dan sebuah gunting kecil diamankan petugas.

Di ruang SPK, Nuryamah menangis meraung-raung sehingga menjadi tontonan warga yang sedang melapor, petugas dan wartawan. Mereka menduga Nuryamah menjadi korban perkosaan.

Ny Emah berusaha menenangkan putrinya yang terus menangis kencang. "Sudah Nak, tenang-tenang," tuturnya.
(umi/nrl)

kalo gue pikir2, si agus goblok banget ga ada kerjaan. gue rasa die udah ngincer tuh cewe buat dipotong rambutnya dari kapan tau. tapi koknya ngincernya yang ngga umum. pantes aja tuh si Nuryamah kejer abis. tabungannya bertahun2 ilang. agus...agus...iseng banget lu jadi orang....

31 Agustus 2007

nasib WNI (dari milis)

To: Forum Kompas <forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com>, 03:35:49 -0700

(PDT)

Subject: Kekerasan pada WNI di Malaysia (hati-hati Promosi Wisata Malaysia!)

==========================

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran. Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2 anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi). Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap. Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.

Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad Singapore, toh kabarnya KL cukup aman. Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang "Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak

sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia Tanya :"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel? "... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan ipar saya yg pulang duluan ke hotel. Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us. Saya kurung kalian...

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama saja...

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi. Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata: if those indon run, just shoot them... katanya sambil menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu". Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.

Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines. Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum. Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.

Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka. Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan.

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000 WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia. Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih.

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia, WNI diperlakukan seperti Kriminal